Tulungagung – BriantTV.com, Musim kemarau panjang ternyata tidak menyurutkan denyut produktivitas sektor pertanian di Kabupaten Tulungagung. Di saat wilayah lain mengeluhkan kekeringan, para petani di Tulungagung justru tetap menunjukkan performa gemilang melalui komoditas strategis seperti padi, jagung, dan tembakau yang tetap menghasilkan cuan serta prospek ekonomi menjanjikan. Ketahanan sektor agraris ini tampak jelas saat peninjauan langsung di lapangan pada Selasa (29/9/2026).
Peninjauan yang melibatkan kelompok tani setempat bersama Kepala BPP Kecamatan Gondang ini dipusatkan di tiga desa wilayah Kecamatan Gondang, yakni Desa Dukuh, Desa Kendal, dan Desa Bendungan. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Drs. Suyanto, M.M., menegaskan bahwa capaian ini membuktikan ketangguhan petani dalam menjaga rantai produksi meski diuji cuaca ekstrem. Di Desa Dukuh, para petani sukses mengembangkan padi varietas Paktiwi 1 dengan produktivitas tinggi mencapai 7 hingga 8 ton per hektare. Berkat sistem pengairan yang mumpuni, pola tanam di wilayah ini bahkan mampu mencapai tiga kali dalam setahun atau IP 300.
”Alhamdulillah, padi varietas Paktiwi 1 ini mampu menghasilkan sekitar 7 sampai 8 ton per hektare dengan tiga kali musim tanam dalam setahun,” ujar Suyanto. Keunggulan Paktiwi 1 terletak pada bulirnya yang lebih besar dan berisi. Keberhasilan ini ditopang oleh infrastruktur irigasi yang berjalan optimal, mulai dari irigasi perpompaan, perpipaan, hingga jaringan irigasi tersier.
Selain metode konvensional, Dinas Pertanian juga menggenjot program pusat berupa Tanam Benih Langsung (Tabela). Metode modern ini terbukti memiliki keunggulan luar biasa yang mampu menghemat biaya operasional secara signifikan. Selain itu durasi tanam hingga panen menjadi lebih cepat, sehingga potensi hasil Tabela bisa menembus 10 hingga 12 ton per hektare. Beralih ke Desa Kendal, komoditas tembakau dan jagung menunjukkan performa ekonomi yang sangat kuat di tengah musim kemarau.
Dengan luas areal mencapai 988 hektare di Tulungagung, musim panen raya yang berlangsung September–Oktober ini telah menyerap lebih dari 50 persen lahan. Harga tembakau daun basah berkisar antara Rp7.000 – Rp9.000 per kilogram, sementara tembakau rajangan kering menembus Rp120.000 – Rp130.000 per kilogram. Tembakau khas rajangan Jawa asal Tulungagung ini tidak hanya memenuhi pabrik lokal, tetapi juga menjadi buruan pasar linting hingga luar pulau seperti Sumatera dan Kalimantan. Sementara itu untuk komoditas jagung di Tulungagung seluas kurang lebih 42 ribu hektare sama sekali tidak terdampak berarti, di mana 70 persennya kini telah memasuki masa panen.
Dengan harga jagung pipilan kering di kisaran Rp7.100 per kilogram, komoditas ini terus memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan petani. Lebih lanjut disampaikan Suyanto, seluruh pencapaian gemilang ini tidak terlepas dari sinergi kuat antara Dinas Pertanian, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kepala BPP, serta kelompok tani di Desa Dukuh, Kendal, dan Bendungan yang mendapat pendampingan secara berkelanjutan.
Melalui penerapan varietas unggul, teknologi budidaya modern, optimalisasi irigasi, serta pendampingan intensif, sektor pertanian Tulungagung terbukti berdiri kokoh. “Langkah strategis ini sekaligus menjadi wujud nyata dukungan Kabupaten Tulungagung terhadap program pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan nasional menuju swasembada pangan,” pungkasnya. (Red/BV)







